Agustri Darma Rumi

Not Try To Become A Success Man But Try To Become A Value Man

Tuhan Ada di Mana-Mana

Posted by Gus Thengil on April 11, 2007

Poltangan, 3 April  2007 

 

aku jauh…Engkau jauh….

aku dekat…Engkau dekat…

 

Hati adalah cermin…..tempat pahala dan doa menyatu….

 

 

Bait di atas adalah cukilan syair dari lagu “Tuhan” ciptaan Bimbo yang terkenal sepanjang masa. Lagu bercorak religius tersebut sungguh enak didengar, baik karena komposisi musiknya yang bagus maupun syair yang sangat menyentuh perasaan keimanan manusia.

 

Hampir semua orang, sejak lagu ini diluncurkan di tahun 1980-an hingga generasi reformasi kini, baik itu tua maupun muda bahkan dari berbagai macam pemeluk keyakinan atau agama (mungkin karena syairnya universal = lintas agama), sangat menyukai lagu ini.

 

Namun dari dulu ada yang mengganjal di pikiran saya, yaitu dua bait pertama yang saya tulis di atas. Dari bait tersebut dapat diartikan (kalau saya tidak keliru) bahwa “antara manusia dengan Tuhan sang pencipta terdapat hubungan atau interelasi timbal balik atau juga hubungan yang bersifat sebab akibat,” betulkah demikian? Mari kita bahas…

 

Sebagai “Tuhan Trasenden” kita telah (telanjur) meyakini bahwa “zat” ini adalah maha besar-maha agung-maha kuasa. Sudah barang tentu dengan atribut yang demikian “dahsyat” tersebut, kita akan mengasumsikan bahwa Tuhan adalah sesuatu yang tak terbatas baik dari segi ruang dan waktunya dan hal itu tercermin pada penciptaannya, wujudnya, dan kekuasaannya. Keluasan dan keleluasaan inilah yang semestinya merupakan salah satu indikator dari sifat-sifat ketuhanan yang hakiki. Sehingga kalau itu berbatas maka itu bukan Tuhan, demikian pula kalau itu tak berkuasa maka itu pasti bukan Tuhan.

 

Selain itu salah satu sifat Tuhan adalah “yang maha menghendaki,” artinya segala sesuatu yang ada dan terjadi di jagat raya ciptaaannya ini adalah atas kehendaknya, atas inisiatifnya dan bukan karena keinginan atau kemauan mahluknya. Manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan yang dibekali dengan akal pikiran bisa mempelajari dan memahami hukum-hukum alam yang ditegakkan Tuhan dan bisa melakukan kreasi-kreasi atau inovasi untuk kehidupannya di dunia namun tidak akan mampu memanipulasi atau bahkan mengganti hukum-hukum atau aturan alam yang ada.

 

Sebagai ciri atau sifat keutamaan Tuhan sebagai maha adil, ini menunjukkan bahwa Tuhan tidak memiliki kepentingan apapun atas ciptaan dan mahluknya, maka dari itu Sang Maha Adil ini akan selalu menempatkan segala sesuatunya di jagat raya ini secara seimbang, setara dan selaras. Antara positif dengan negatif, antara kurang dan lebih, antara baik dan buruk, antara pria dan wanita, serta antara antara hitam dan putih. Manusia bisa memilih dan mendapatkan di antara kedua sumbu atau kutub tersebut. Oleh karena itu kita bisa melihat kenyataan bahwa ada orang baik yang kaya, namun ada juga ada orang jahat yang kaya, demikian juga sebaliknya ada orang yang sangat baik tetapi selalu miskin.

 

Kedua kutub atau sumbu yang berbeda dan berlawanan tersebut sebenarnya di mata Tuhan adalah sama, keduanya mengandung makna sebagai alat uji dan cobaan terhadap kadar nilai kebaikan dan ketaatan manusia. Kejadian-kejadian ini bagian dari usaha dan perjudian/peruntungan nasib manusia, jadi Tuhan dengan kemaha-adilannya itu benar-benar menempatkan diri sebagai hakim yang adil. Itu semua juga tak lepas dari salah satu sifat utama Tuhan yang lain, yaitu yang maha pengasih dan lagi maha penyayang.

 

Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa dengan kebesaran, kekuasaan, keadilan, dan penyayangnya, Tuhan pasti akan selalu ada di mana-mana, tiada ruang dan waktu yang luput dari pengetahuan dan jangkauan Tuhan, bahkan Tuhan akan berada di sisi terdekat manusia yang manusia sendiri tidak sanggup menduganya, karena kemanapun manusia menghadap maka di sanalah wajah Tuhan kan berada. 

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.