Keimanan Tanpa Simbolitas
Posted by Gus Thengil on April 11, 2007
Poltangan, 3 April 2007
Keyakinan atau keimanan itu sumbernya adalah abstrak-tak kentara, dia merupakan hasil kerja dari imajinasi-intuisi atau daya khayal yang bergerak melampaui dunia fisik. Tuhan seringkali dianalogikan sebagai suatu zat atau partikel yang terkecil dari apapun sehingga dalam keimanan-ketuhanan, manusia sebenarnya sedang berusaha menjangkau sesuatu yang kasat mata dan atau yang tidak mungkin terdeteksi oleh inderawinya itu.
Secara logis dapat digambarkan bahwa keimanan/keyakinan-ketuhanan terletak dalam lingkungan esoteris dan bukannya di lingkungan eksoteris yang nyata. Oleh karena itu keyakinan akan hal tersebut tidak akan bisa terwakili oleh perlambang atau symbol apapun. Simbolitas dari keyakinan-ketuhanan apapun sebenarnya akan mencederai hakekat ketuhanan itu sendiri.
Seringkali kita melihat dan mendengar bahwa berbagai konflik antar manusia atau kelompok masyarakat dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan identitas dan keyakinan, dalam bahasa jurnalistiknya adalah isu SARA. Banyak konflik tersebut sebenarnya justru dimulai oleh konflik-konflik kecil atau pertikaian biasa yang akhirnya justru menjadi bertambah besar bahkan meluas setelah munculnya simbol-simbol identitas yang dikedepankan atau dimanpulasi oleh oknum atau kelompok tertentu dan bukan melihat factor objetif yang sebenarnya terjadi. Dan anehnya, setiap setelah konflik antar identitas itu benar-benar nyata terjadi, pihak-pihak yang berkompeten (pemerintah & tokoh masyarakat) justru sering memanipulasi untuk mengatakan tidak terjadi konflik berbau SARA tersebut.
Subjektifitas ini muncul karena memang tidak ada keberanian sikap untuk mengatakan kebenaran secara jujur, dan memang salah satu penyakit besar bangsa ini selain korupsi adalah tiadanya sportifitas dalam berbagai aspek kehidupan. Contohnya : dalam berbagai kesempatan saat konflik Maluku terjadi, Jusuf Kalla yang waktu itu menjabat sebagai Menko Kesra dan penggagas Deklarasi Malino sering berpidato bahwa apa yang terjadi di Maluku adalah bukan konflik antar agama. Memang, bukan konflik antar agama, karena subjeknya adalah manusia jadi konflik antar umat beragama khususnya antara umat Islam dan Kristen di
sana adalah nyata-nyata terjadi. Dan konflik identitas ini semakin berlarut-larut karena juga merambah ke sector penjaga keamanan (TNI dan Polri), dimana kita bisa melihat bahwa ABRI sebagai institusi yang semestinya hanya memiliki satu identitas (
Indonesia) nyatanya terpecah juga dalam berbagai faksi yang menyiratkan adanya pertikaian identitas.
Hal tersebut sangat menyedihkan dan contoh lain di belahan dunia lain pun juga sering terjadi. Kita bisa lihat pertikaian antar faksi Sunni dan Syiah di Irak yang notabene adalah sesama muslim namun sangat terpecah karena factor histories yang berseberangan antara pengikut Ahlul Sunnah dengan pengikut Ali dan Hussein. Hal tersebut tentunya akan sangat memperlemah posisi Irak dan memperlama proses pembentukan pemerintahan demokratis Irak yang bebas dari intervensi
US dan sekutunya. Kita tengok Libanon, yang sebenarnya sangat menyimpan potensi kemajemukan sama halnya dengan Indonesia, namun sejak adanya invasi 24 hari oleh Israel akhir 2006 lalu, masing-masing faksi yang terdiri dari golongan Sunni, Syiah pro Suriah, Kristen Maronit, dan Kelompok Druze mulai terpecah belah, dan ditandai dengan berbagai aksi penculikan dan pembunuhan yang tentunya menimbulkan terror di tengah-tengah masyarakat Libanon yang pluralistic tersebut. Terbunuhnya Menteri Rafik Hariri merupakan bukti perpecahan tersebut, padahal selama ini, kaum Kristen Maronit dipercaya justru sebagai penengah dan pemimpin bagi masyarakat berpenduduk mayoritas muslim tersebut.
Hal-hal di atas semestinya menjadikan kita menyadari bahwa penonjolan symbol atau identitas keyakinan yang telalu demonstrative pada akhirnya justru akan menimbulkan pertikaian dan dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang memang senang dengan tindakan kekerasan atau teror sebagai
gaya perjuangannya. Dan itu semua menuju pada kesimpulan bahwa praktek keyakinan-ketuhanan dalam kehidupan sehari-hari yang terlalu banyak diselubungi atau dikemas oleh simbol/perlambang sebenarnya hanya akan menurunkan dan melunturkan derajat keimanan manusia. Karena misi dari spiritualitas di dunia ini adalah membangun kehidupan yang baik dan tidak menimbulkan kerusakan.



