Agustri Darma Rumi

Not Try To Become A Success Man But Try To Become A Value Man

Manusia Merdeka

Posted by Gus Thengil on December 11, 2006

Poltangan, Januari 2000

Sebelumnya ijinkan saya perkenalkan diri dulu, Saya hanyalah sebutir pasir dalam kosmologi ilmu pengetahuan yang sangat menaruh perhatian terhadap berbagai corak pemikiran ilmiah yang mendasarkan pemikiran pada kajian empiris, rasional, objektif dan kritis. Bagi saya pembebasan dan perkelanaan dalam berpikir adalah prasyarat menuju kebenaran objektif.

Sungguh sangat tidak asing bagi saya bersinggungan dengan corak pemikiran kehidupan & keyakinan yang bersifat objektif dan terbuka (inclusive) dari kawan-kawan baik semasa sekolah (mulai SD – SMA) hingga semasa kuliah di Undip dan Trisakti sampai pada tempat kerja di Soekarno-Hatta sekarang ini.

Kemerdekaan atau kebebasan individu adalah syarat mutlak menuju kemajuan yang ilmiah yang pada dasarnya adalah bersifat sementara (tentative) karena sifat hakiki manusia yang sebenarnya yaitu : ketidaksempurnaan. Untuk itulah aku menyebut diri ini sebagai “Manusia Merdeka” atau disebut “MM”. Kenapa disebut MM, baik saya jelaskan semacam Garis-garis Besar Haluan-nya :

1.Penggunaan istilah merdeka bagi saya pribadi merupakan bentuk penarikan diri dari pemahaman mayoritas yang cenderung otoriter sehingga menimbulkan sikap jengah, skeptis dan bermosi tak percaya terhadap otoritas yang cenderung otoriter atau absolutis tersebut atau dalam bahasa lain, MM adalah seorang protestant. Pengertian ini sebenarnya mirip dengan definisi dari liberalis, tetapi terus terang saya tidak sepakat penggunaan istilah liberal walaupun saya sangat memahami dan sepakat dengan definisi pembebasan dan pencerahan – nya (liberation & enlightening). Sebagai orang Indonesia yang punya jati diri kebangsaan dan kebahasaan yang khas, saya lebih leluasa pakai istilah merdeka yang artinya kurang lebih sama, namun terasa lebih menggelora bagi saya. Dan perlu diketahui penggunaan istilah-istilah tersebut bukan harga mati karena yang paling penting adalah sebagai kata sifat yang menerangkan karakteristik khusus dari pemikiran yang kritis, objektif, rasional, terbuka, dan anti kemapanan tersebut. Dan yang tak kalah penting, penggunaan istilah liberal seringkali tidak produktif diperkenalkan dan diterapkan di Indonesia sebagai akibat sentimen historis atas kolonialisme/penjajahan maupun sentimen terkini terhadap apa yang disebut sebagai globalisasi/neoliberalisme yang dianggap merupakan produk neokolonialisme, dan westernisasi.

2.Pendekatan yang dipakai dalam mengidentifikasi, merumuskan, mengkaji dan memecahkan persoalan senantiasa mengacu pada berbagai bidang keilmuan, baik dari yang bersifat ilmu-ilmu dasar maupun ilmu-ilmu terapan. Dengan demikian kajian konstruktif yang dijabarkan merupakan kajian menyeluruh (comprehensive) secara kualitatif, kuantitatif, epistemologis, filosofis, psikologis, linguistis maupun teologis.

3.Berusaha membumi dengan masalah-masalah nyata (actual) yang terjadi dalam kehidupan kemasyarakatan, kenegaraan dan pergaulan dunia. Hal ini sebagai tantangan dalam pembuktian makna “rahmatan lil aalamiiin”. Sebagai bagian dari komunitas bangsa Indonesia, MM harus bisa memegang komitmen dan menampilkan ciri keindonesiaan (nationalism) yang kental tanpa bersikap fasis dan sebagai bagian dari komunitas internasional, MM harus mampu mengedepankan unsur-unsur kemanusiaan dan universalitas.

4.MM harus selalu menunjukkan keberpihakan pada objek yang tertindas, terpinggirkan, tersingkirkan (marginal) dan yang relatif lemah (dhuafa) serta senantiasa menjadi agen penjaga, pembaharu, dan penggerak perubahan sosial yang bersifat transformatif dan kultural. Pada kaitan permasalahan yang menyangkut kepentingan dan hajat hidup orang banyak, MM harus bisa mendorong terciptanya produk-produk hukum (procedural) yang berkeadilan dan melindungi kepentingan umum tersebut dengan tanpa membatasi kebebasan pribadi dan kebebasan berpikir.

5.MM harus bisa mengendalikan diri dan mengatur posisinya pada rel kebenaran ilmiah dan objektif serta tidak boleh memiliki kecenderungan (tendency), keberpihakan dan sikap apriori yang tidak berdasar (subjective) apabila ingin tetap diterima khalayak luas (acceptable).

6.Berusaha tidak terseret pada kepentingan pragmatis politik praktis karena perjuangan moral dan ilmiah tidak haus kekuasaan structural tetapi lebih bertujuan menjadi roh/spirit bagi kehidupan itu sendiri. Ingat “kekuasaan akan cenderung korup”.

Demikian dulu dari saya, anggap saja hal di atas sebagai untaian perkenalan dari saya kepada kawan-kawan semua baik sebangsa maupun bukan dan juga yang seide maupun yang berbeda pandangan. Ke depan, mudah-mudahan kita bisa berdiskusi lebih dalam, lebih seru dan lebih kritis lagi.

Salam & Merdeka !!!

Leave a Reply

You must be logged in to post a comment.